Rabu, 26 Juli 2017

A

DrNilangkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang
memungkinkan siswa itu belajar mandiri.
Berdasarkan uraian di atas, Vygotsky menekankan bahwa pengkonstruksian
pengetahuan seorang individu dicapai melalui interaksi sosial. Tahap
perkembangan aktual (Tahap I) terjadi pada saat siswa berusaha sendiri menyudahi
konflik kognitif yang dialaminya. Perkembangan aktual ini dapat mencapai tahap
maksimum apabila kepada mereka dihadapkan masalah menantang sehingga terjadinya
konflik kognitif di dalam dirinya yang memicu dan memacu mereka untuk menggunakan
segenap pengetahuan dan pengalamannya dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Perkembangan potensial (Tahap II) terjadi pada saat siswa berinteraksi dengan
pihak lain dalam komunitas kelas yang memiliki kemampuan lebih, seperti teman dan
guru, atau dengan komunitas lain seperti orang tua. Perkembangan potensial ini akan
mencapai tahap maksimal jika pembelajaran dilakukan secara kooperatif (cooperative
learning) dalam kelompok kecil dua sampai empat orang dan guru melakukan intervensi
secara proporsional dan terarah. Dalam hal ini guru dituntut terampil menerapkan
teknik scaffolding yaitu membantu kelompok secara tidak langsung menggunakan
teknik bertanya dan teknik probing yang efektif, atau memberikan petunjuk (hint)
seperlunya.
Proses pengkonstruksian pengetahuan ini terjadi rekonstruksi mental yaitu
berubahnya struktur kognitif dari skema yang telah ada menjadi skema baru yang lebih
lengkap. Proses internalisasi (Tahap III) menurut Vygotsky merupakan aktivitas mental
tingkat tinggi jika terjadi karena adanya interaksi sosial. Setelah memahami teori belajar
Vygotsky yang menekankan bahwa pengkonstruksian pengetahuan seorang individu
dicapai melalui interaksi sosial. Berikan satu contoh kegiatan inti pembelajaran dalam
satu kompetensi dasar mata pelajaran IPS.
2. Teori Belajar Van Hiele
Dalam pembelajaran geometri terdapat teori belajar yang dikemukakan oleh Van
Hiele (1954) yang menguraikan tahap-tahap perkembangan mental anak dalam
geometri. van Hiele adalah seorang guru bangsa Belanda yang mengadakan
penelitiandalam pembelajaran geometri. Penelitian yang dilakukan van Hiele melahirkan
beberapa kesimpulan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam �

memahami geometri. Van Hiele menyatakan bahwa terdapat 5 tahap pemahaman
geometri yaitu: pengenalan, analisis, pengurutan, deduksi, dan akurasi.
a) Tahap Visualisasi (Pengenalan)
Pada tingkat ini, siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu
keseluruhan (holistic). Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen￾komponen dari masing-masing bangun. Dengan demikian, meskipun pada tingkat ini
siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun, siswa belum mengamati ciri-ciri dari
bangun itu. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegi
panjang, tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegi panjang tersebut.
b) Tahap Analisis (Deskriptif)
Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan
ciri-ciri dari masing-masing bangun. Dengan kata lain, pada tingkat ini siswa sudah
terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati
sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut. Sebagai contoh, pada tingkat ini
siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang
karena bangun itu “mempunyai empat sisi, sisi-sisi yang berhadapan sejajar, dan
semua sudutnya siku-siku.”
c) Tahap Deduksi Formal (Pengurutan atau Relasional)
Pada tingkat ini, siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu
dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa
sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan
sejajar, maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. Di samping itu pada tingkat
ini siswa sudah memahami pelunya definisi untuk tiap-tiap bangun. Pada tahap ini,
siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun
yang lain. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi
adalah juga persegipanjang, karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang.
d) Tahap Deduksi
Pada tingkat ini (1) siswa sudah dapat mengambil kesimpulan secara deduktif,
yakni menarik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat khusus, (2) siswa mampu memahami
pengertian-pengertian pangkal, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan terorema-teorema
dalam geometri, dan (3) siswa sudah mulai mampu menyusun bukti-bukti secara formal. �

Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat
deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut. Sebagai contoh
untuk menunjukkan bahwa jumlah sudut-sudut dalam jajar genjang adalah 360° secara
deduktif dibuktikan dengan menggunakan prinsip kesejajaran. Pembuktian secara
induktif yaitu dengan memotong-motong sudut-sudut benda jajargenjang, kemudian
setelah itu ditunjukkan semua sudutnya membentuk sudut satu putaran penuh atau
360° belum tuntas dan belum tentu tepat. Seperti diketahui bahwa pengukuran itu
pada dasarnya mencari nilai yang paling dekat dengan ukuran yang sebenarnya. Jadi,
mungkin saja dapat keliru dalam mengukur sudut- sudut jajargenjang tersebut. Untuk
itu pembuktian secara deduktif merupakan cara yang tepat dalam pembuktian pada
matematika.
e) Tahap Akurasi (tingkat metamatematis atau keakuratan)
Pada tingkat ini anak sudah memahami betapa pentingnya ketepatan dari prinsip￾prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Sudah memahami mengapa sesuatu itu
dijadikan postulat atau dalil. Dalam matematika kita tahu bahwa betapa pentingnya suatu
sistem deduktif. Tahap keakuratan merupakan tahap tertinggi dalam memahami
geometri. Pada tahap ini memerlukan tahap berpikir yang kompleks dan rumit, siswa
mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika
(termasuk sistem-sistem geometri), tanpa membutuhkan model-model yang konkret
sebagai acuan. Pada tingkat ini, siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih
dari satu geometri. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah
satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah, maka seluruh geometri tersebut juga
akan berubah. Sehingga, pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometri￾geometri yang lain di samping geometri Euclides.
Selain mengemukakan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif dalam
memahami geometri, Van Hiele juga mengemukakan bahwa terdapat tiga unsur yang
utama pembelajaran geometri yaitu waktu, materi pembelajaran dan metode penyusun
yang apabila dikelola secara terpadu dapat mengakibatkan meningkatnya kemampuan
berpikir anak kepada tahap yang lebih tinggi dari tahap yang sebelumnya.�

3. Model-model Pembelajaran
1) Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning)
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning), selanjutnya
disingkat PBM, mula-mula dikembangkan di sekolah kedokteran, McMaster
University Medical School di Hamilton, Canada pada 1960-an (Barrows, 1996). PBM
dikembangkan sebagai respon atas fakta bahwa mahapeserta didik mengalami
kesulitan di tahun pertama perkuliahan, seperti pada mata kuliah Anatomi, Biokimia,
dan Fisiologi. Mereka tidak termotivasi menempuh mata kuliah-mata kuliah tersebut
karena tidak melihat relevansinya dengan profesi mereka kelak. Selain itu, juga
didapati fakta bahwa para dokter muda yang baru lulus dari sekolah kedokteran itu
memiliki pengetahuan yang sangat kaya, tetapi kurang memiliki keterampilan memadai untuk memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam praktik sehari-hari. Atas
dasar itu, para pengajar merancang pembelajaran yang mendasarkan pada masalah
atau kasus aktual. Pembelajaran dimulai dengan penyajian masalah klinis yang dapat
diselesaikan dengan menggunakan pengetahuan medis yang relevan. Perkembangan
selanjutnya, PBM secara lebih luas diterapkan di berbagai mata kuliah di perguruan
tinggi dan di berbagai mata pelajaran di sekolah. Pembelajaran Berbasis Masalah
(PBM) adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sehari-hari (otentik)
yang bersifat terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik dalam
rangka mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan
masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun
atau memperoleh pengetahuan baru. Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan
atas pertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar.
Contoh masalah nyata yang dapat digunakan dalam Pembelajaran Berbasis
Masalah dalam pembelajaran tematik: Dalam kegiatan makan siang bersama adik,
siswa dapat melatih adik di rumah dan menunjukkan sikap-sikap baik terhadap adik
yang telah dipelajari dengan santun. Tujuan utama PBM adalah mengembangkan
keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan berpikir, keterampilan sosial,
keterampilan untuk belajar mandiri, dan membentuk atau memperoleh pengetahuan
baru. Prinsip-prinsip PBM adalah sebagai berkut.
1. Penggunaan masalah nyata (otentik)
2. Berpusat pada peserta didik (student-centered)
3. Guru berperan sebagai fasilitator
4. Kolaborasi antarpeserta didik
5. Sesuai dengan paham konstruktivisme yang menekankan peserta didik untuk
secara aktif memperoleh pengetahuannya sendiri.
Secara umum, berikut langkah-langkah PBM yang mengadaptasi dari
pendapat Arends (2012) dan Fogarty (1997). Kegiatan pembelajaran terdiri atas tiga
tahap, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Tahap-tahap orientasi terhadap
masalah, organisasi belajar, penyelidikan individual maupun kelompok, dan
pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian masalah merupakan tahap inti �
2) Pembelajaran Berbasis Projek (Project-based Learning)
Pembelajaran Berbasis Projek (PBP) adalah kegiatan pembelajaran yang
menggunakan projek/kegiatan sebagai proses pembelajaran untuk mencapai
kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penekanan pembelajaran
terletak pada aktivitas-aktivias peserta didik untuk menghasilkan produk dengan
menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan
mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Produkyang dimaksud adalah hasil projek dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya
seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain. Pendekatan ini memperkenankan
pesera didik untuk bekerja secara mandiri maupun berkelompok dalam
menghasilkan produk nyata.
Pembelajaran Berbasis Projek merupakan model pembelajaran yang
menggunakan projek sebagai langkah awal dalam mengintegrasikan pengetahuan
dan keterampilan baru berdasarkan pengalaman nyata. PBP dilakukan secara
sistematik yang mengikutsertakan peserta didik dalam pembelajaran sikap,
pengetahuan, dan keterampilan melalui investigasi dalam perancangan produk. PBP
merupakan pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar
kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Pelaksanaan pembelajaran
berbasis projek memberi kesempatan peserta didik berpikir kritis dan mampu
mengembangkan kreativitasnya melalui pengembangan inisiatif untuk menghasilkan
produk nyata berupa barang atau jasa.
Pada PBP, peserta didik terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah
dalam bentuk suatu projek. Peserta didik aktif mengelola pembelajarannya dengan
bekerja secara nyata yang menghasilkan produk riil. PBP dapat mereduksi kompetisi
di dalam kelas dan mengarahkan peserta didik lebih kolaboratif daripada bekerja
sendiri-sendiri. Di samping itu PBP dapat juga dilakukan secara mandiri melalui
bekerja mengkonstruk pembelajarannya melalui pengetahuan serta keterampilan
baru, dan mewujudkannya dalam produk nyata. Pembelajaran Berbasis Projek
merupakan metode pembelajaran yang berfokus pada peserta didik dalam kegiatan
pemecahan masalah terkait dengan projek dan tugas-tugas bermakna lainnya.
Pelaksanaan PBP dapat memberi peluang pada peserta didik untuk bekerja
mengkonstruk tugas yang diberikan guru yang puncaknya dapat menghasilkan
produk karya peserta didik. Tujuan Pembelajaran Berbasis Projek (PBP) adalah
sebagai berikut:
1) Memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru dalam pembelajaran
2) Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah projek.
3) Membuat peserta didik lebih aktif dalam memecahkan masalah projek yang
kompleks dengan hasil produk nyata berupa barang atau jasa.�

4) Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam
mengelola sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan tugas/projek.
5) Meningkatkan kolaborasi peserta didik khususnya pada PBP yang bersifat
kelompok.
Prinsip-prinsip pembelajaran berbasis projek adalah sebagai berikut.
1) Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan tugas-tugas projek
pada kehidupan nyata untuk memperkaya pembelajaran.
2) Tugas projek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan suatu tema
atau topik yang telah ditentukan dalam pembelajaran.
3) Tema atau topik yang dibelajarkan dapat dikembangkan dari suatu kompetensi
dasar tertentu atau gabungan beberapa kompetensi dasar dalam suatu mata
pelajaran, atau gabungan beberapa kompetensi dasar antarmata pelajaran.
Oleh karena itu, tugas projek dalam satu semester dibolehkan hanya satu
penugasan dalam suatu mata pelajaran.
4) Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan menghasilkan
produk nyata yang telah dianalisis dan dikembangkan berdasarkan tema/topik
yang disusun dalam bentuk produk (laporan atau hasil karya). Produk tersebut
selanjutnya dikomunikasikan untuk mendapat tanggapan dan umpan balik
untuk perbaikan produk.
5) Pembelajaran dirancang dalam pertemuan tatap muka dan tugas mandiri
dalam fasilitasi dan monitoring oleh guru. Pertemuan tatap muka dapat
dilakukan di awal pada langkah penentuan projek dan di akhir pembelajaran
pada langkah penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil projek, serta
evaluasi proses dan hasil projek.
Dalam PBP, peserta didik diberikan tugas dengan mengembangkan tema/topik dalam
pembelajaran dengan melakukan kegiatan projek yang realistik. Di samping itu,
penerapan pembelajaran berbasis projek ini mendorong tumbuhnya kreativitas,
kemandirian, tanggung jawab, kepercayaan diri, serta berpikir kritis dan analitis pada
peserta didik. Berikut disajikan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada
setiap langkah PBP.
1. Penentuan projek
Pada langkah ini, peserta didik menentukan tema/topik projek bersama guru. Peserta
didik diberi kesempatan untuk memilih/menentukan projek yang akan dikerjakannya
baik secara kelompok ataupun mandiri dengan catatan tidak menyimpang dari tema.
Pada bagian ini, peserta didik memilih tema/topik untuk menghasilkan produk
(laporan observasi/penyelidikan, rancangan karya seni, atau karya keterampilan)
dengan karakteristik mata pelajaran dengan menekankan keorisinilan produk.
Penentuan produk juga disesuaikan dengan kriteria tugas, dengan
mempertimbangkan kemampuan peserta didik dan sumber/bahan/alat yang
tersedia.
2. Perancangan langkah-langkah penyelesaian projek
Peserta didik merancang langkah-langkah kegiatan penyelesaian projek dari awal
sampai akhir beserta pengelolaannya. Kegiatan perancangan projek ini berisi
perumusan tujuan dan hasil yang diharapkan, pemilihan aktivitas untuk penyelesaian
projek, perencanaan sumber/bahan/alat yang dapat mendukung penyelesaian tugas
projek, dan kerja sama antaranggota kelompok. Pada kegiatan ini, peserta didik
mengidentifikasi bagian-bagian produk yang akan dihasilkan dan langkah-langkah
serta teknik untuk menyelesaikan bagian-bagian tersebut sampai dicapai produk
akhir.
3. Penyusunan jadwal pelaksanaan projek
Peserta didik dengan pendampingan guru melakukan penjadwalan semua kegiatan
yang telah dirancangnya.Berapa lama projek itu harus diselesaikan tahap demi tahap.
Peserta didik menyusun tahap-tahap pelaksanaan projek dengan mempertimbangkan
kompleksitas langkah-langkah dan teknik penyelesaian produk serta waktu yang
ditentukan guru.
4. Penyelesaian projek dengan fasilitasi dan monitoring guru
Langkah ini merupakan pelaksanaan rancangan projek yang telah dibuat.
Peserta didik mencari atau mengumpulkan data/material dan kemudian
mengolahnya untuk menyusun/mewujudkan bagian demi bagian sampai dihasilkan
produk akhir.�

5. Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil projek
Hasil projek dalam bentuk produk, baik itu berupa produk karya tulis, disain, karya
seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lan dipresentasikan dan/atau dipublikasikan
kepada peserta didik yang lain dan guru atau masyarakat dalam bentuk presentasi,
publikasi (dapat dilakukan di majalah dinding atau internet), dan pameran produk
pembelajaran.
6. Evaluasi proses dan hasil projek
Guru dan peserta didik pada akhir proses pembelajaran melakukan refleksi terhadap
aktivitas dan hasil tugas projek. Proses refleksi pada tugas projek dapat dilakukan
secara individu maupun kelompok. Pada tahap evaluasi, peserta didik diberi
kesempatan mengemukakan pengalamannya selama menyelesaikan tugas projek
yang berkembang dengan diskusi untuk memperbaiki kinerja selama menyelesaikan
tugas projek. Pada tahap ini juga dilakukan umpan balik terhadap proses dan produk
yang telah dilakukan. Proses pembelajaran berbasis projek meliputi tahap-tahap
pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Langkah-langkah PBP secara keseluruhan
berada dalam tahap kegiatan inti. Dengan demikian tahap kegiatan inti meliputi
kegiatan menemukan tema/topik projek, kegiatan merancang langkah penyelesaian
projek, menyusun jadwal projek, proses penyelesaian projek dengan difasilitasi dan
dimonitor oleh guru, penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil projek,
dan evaluasi proses dan hasil kegiatan projek.
3) Pembelajaran Menemukan (Discovery Learning)
Pembelajaran menemukan (Discovery Learning), adalah Pembelajaran untuk
menemukan konsep, makna, dan hubungan kausal melalui pengorganisasian
pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik. Tiga ciri utama belajar menemukan
yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan,
menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada peserta
didik; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang
sudah ada. Karakteristik dari pembelajaran menemukan (Discovery Learning):
1) Peran guru sebagai pembimbing.
2) Peserta didik belajar secara aktif sebagai seorang ilmuwan.�